Jumat, 21 Desember 2007

Belajar Dari Samsung Electronics

Korea Selatan sebagai negara dimana Samsung Electronics berasal adalah negara yang memiliki bangsa dengan kecintaan yang sangat besar terhadap produk sendiri . Selain itu mereka mempunyai perasaan antipati terhadap Jepang yang menjajah Korea selama 36 tahun. Sikap antipati ini ternyata berdampak positif bagi kesuksesan Korea. Antipati itu disalurkan secara positif, engan upaya mengalahkan Jepang melalui keunggulan teknologi dan kekuatan bisnis . Kini siapa yang tidak kenal negara dengan sebutan “Macan Asia” tersebut.

Perasaan antipati serupa,mengilhami filosofi kerja Samsung Electronics. Sejak berkonsentrasi memperoduksi perangkat elektronik pada tahun 1972, Samsung memilih Sony yang notabene dianggap mewakili negara Jepang, sebagai pesaing utama.Yang unik adalah urutan filosofi kinerjanya :

· Saat Sony ( baca: bangsa Jepang ) tidur, Samsung harus sudah bangun.
· Saat Sony bangun, Samsung harus sudah mulai bekerja.
· Saat Sony mulai bekerja, Samsung harus sudah berjalan
· Saat Sony sudah berjalan, Samsung harus sudah berlari.

Tahun 2006 , Samsung terbukti mampu mengalahkan Sony dalam hal merek, harga saham, dan kapitalisasi market. Sehingga filosofi yang digunakannya layak dipertimbangakan. Bila jadi kemeingan Samsung atas Sony merupakan strating point yang dapat dianalogikan untuk kemenangan Bank Mandiri yang pada tahun ini telah duduk sejajar dengan bank-bank service leader.

Penerapan filosofi yang diterapkan oleh Samsung di dalam meninggal ketertingalanya membuat perusahaan tersebut sadar bahwa apa yang mereka miliki memang dapat dijadikan competitvei advantage yang dimiliki untuk dapat bersaing dengan kekuatan sendiri.

Kalau diibaratkan juga dengan bayi yang baru lahir. Kelengahan yang dilakukan kedua orang tua di dalam mengurus mereka maka akan banyak waktu yang akan hilang. Dari proses tengkurp hingga ke merangkak memang sebuah proses tapi kecepatan dari prosess itu tidak dpaat diukur jika tidak terdapat pembandingnya.

Mengungguli perusahaan yang sudah mature dengan capital yang besar serta kemampanan memang membutuhkan startegi yang tepat. Mulai dari kapan startegi itu dibuat atau diformulasikan hingga pada saat pemilihan cara yang terbaik dari yang baik untuk menjalankan strategi formulasi itu sendiri.

Staretegi yang baik belum tentu dapat berjalan dengan optimal jika tidak didukung oleh semua orang yang terlibat di dalamnya. Oleh karena itu diperlukan suatu wacana yang dapat mengkomunikasikan hal tersebut agar mudah dimengerti serta dijalankan. Langkah yang tepat adalah melakukan sesuatu lebih dahulu dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh competitor kita.

Dari pengalaman Samsung Electronic ada tiga hal utama yang dapat ditangkap oleh sebuah indudtri perbankan untuk dapat meningkatkan servicenya, dianatra :

Pertama, Transformation Lessons. Jika tahun 2005 , dianalogikan sebagai tahapan maturity bagi bank Mandiri menuju zone comfort, berarti kita sedang berjalan menuju masa kirisis. Dibutuhkan mental juara untuk dapat mengantarkan kita terus menjalankan transformasi di bidang service, berupa continous improvement demi tercipta competitive adavantage.

Kedua, branding lesson. Survei MRI telah mengantarkan bank mandiri mengantongi brand identity sebagai bank dengan pelayanan terbaik ke-3 seluruh Indonesia. Hal ini menyebabkan semua insane bank mandiri pendukung service harus mempertahankanya sebagai upaya menciptakan brand intregrity yang diharapkan menegakkan brand image sebagai good service provider.

Ketiga, Innovation lesson. Yang terdiri dari Service Innovation ( IS ) dan Technology Innovation ( IT ). Sudah semestinya SI diupayakan secara terus menerus demi mengisi room for improvement yang menganga di setiap sub aspek yang kurang menggembirakan. Sementara TI, hamper tidak ada lagi bisnis yang sanggup memisahkan diri dari penggunaan teknologi. TI yang meringankan tugas fronliners juga mampu menjadi competitive advantage faktor dalam meiningkatkan brand image bank mandiri.
Tetapi sebesar dan sebagaus apapun formulasi yang dibuat tidak akan bearti tanpa dukungan dan komitmen dari segenap insan perusahaan.

0 komentar: